Mertua vz Menantu

Mertua vz Menantu...hihihiii kayak judul sitkom di televisi, tapi memang banyak terjadi dalam kehidupan semua orang sih. Entah dari sononya atau memang di Indonesia aja yah, yang namanya mertua gak pernah bisa 'akur' dan 'mesra' dengan menantunya. Ada saja hal yang membuat tidak nyaman keduanya. Bukan karena masing-masing awalnya orang asing yang belum dikenal lama. Tapi memang semacam ada gap sendiri yang tidak bisa dinalarkan.

Padahal ya, kita semua ini berteman dan menjalin hubungan dengan orang juga awalnya juga saling tidak kenal. Tapi kenapa terasa beda kalau 'berhubungan' dengan keluarga pasangan kita ini. Kenapa coba bisa begitu???. Sedikit perkataan ataupun nasihat dari mertua,  hal tersebut gampang dan begitu sensitifnya menyinggung hati. Padahal kita sama teman atau enemy, dikata-katain kayak apa juga kita bisa nerima.

Begitu pula dengan perasaan para mertua, sedikit saja menantunya tidak bisa akrab sudah dibilang tidak hormat dll yang berhubungan dengan etika dan kesopanan. Huhhh.....kadang terasa susah menempatkan diri dan bersikap. Padahal kita sebagai menantu kadang menaruh hormat yang berlebihan dibanding kepada orang tua sendiri, masih saja tidak membuat nyaman.

image by google

Sangat sedikit jumlahnya mertua dan menantu yang bisa harmonis dibanding yang tidak. Itu hanya sebagian kecil diantara berjuta-juta pasangan kayaknya.

Seperti kisah saya dengan mertua dan keluarga besar suami. Saya termasuk seseorang yang tidak sama sekali punya hubungan harmonis dengan mertua, tapi tidak pula bermusuhan. Hanya saja, saya sebagai yang berusia lebih muda kadang susah mengerti orang yang menjadi mertua saya itu. Mungkin juga mertua saya merasa hal yang sama kepada saya dan menantu-menantu lainnya.

Sedikit obrolan seru antara saya dan mertua gitu sudah saya anggap "oh ya it's time saya selangkah akrab dengan mertua" dan inginnya saya lebih mendekat dan banyak komunikasi. Tapi begitu sedikit saja mertua saya marah pada saya, saya akan 1000 langkah menjauh darinya. Jadi semacam saya belum nemu hal yang membuat mertua saya tampak menyenangkan. So, tiap ketemu saya merasa seperti pertama kali saya dikenalkan oleh suami dulu saat pacaran, kikuk. Semacam belum mapan gitu perasaan saya untuk sekadar berbincang apalagi curhat padanya.

Akhirnya saya membuat kesimpulan sendiri, kenapa mertua dan menantu dari jaman batu sampai modern gini tidak bisa harmonis. Saya berfikir mungkin mertua saya itu sangat sayang pada anaknya yang sekarang jadi 'milik' orang lain yaitu istrinya. Dulu mungkin mertua memperlakukan anak-anaknya dengan sangat sayang, disiplin dan sangat memperhatikan kebutuhan anaknya. Lalu sekarang anaknya tersebut harus bertanggung jawab pada istrinya, lebih banyak perhatian pada istrinya, dan istrinya tidak sebaik dia dalam memperlakukan anaknya. Padahal setiap rumah tangga baru selalu mempunyai cara sendiri dalam menjalani hidup dan bertahan hidup, yang kadang tidak tampak sempurna apalagi sesuai dengan harapan orang tua.

Jangankan mertua, ibu saya aja begitu kok melihat saya setelah menikah. Pernah ibu saya sangat sedih hingga menangis histeris karena anaknya tampak terlihat tidak ideal seperti rumah tangga lain. Padahal saya sangat enjoy dengan kehidupan rumah tangga saya dan hampir tidak pernah ada pertengkaran besar. Saya dan suamipun sama sekali tidak pernah mengkomunikasikan keadaan rumah tangga kami dengan orang tua masing-masing. Yap! kami enjoy tapi kadang orang tua mengharap dan berharap pasangan anaknya ideal seperti gambaran dan angan-angan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa kami baru menapaki dunia baru, baru belajar, baru menerapkan pengertian dan saling menyayangi.

Mungkin selamanya tidak ada keharmonisan 100% antara mertua dan menantu ini yah xixiixixixix. Kadang saya merasa, saya menghormati mertua saya hanya karena beliau orang tua suami saya. Saya tidak berharap hubungan lebih dari itu karena kadang menyakitkan jika terlalu akrab. Huh...lagi-lagi saya parno duluan. Saat ini memang saya cukup menghormatinya dan membantu jika diperlukan saja. Lha wong mau berbuat baik dan buruk ya tetap yang paling diingat jeleknya eeee.... jadi lebih baik berdamai dan enjoy dengan keadaan, melanjutkan hidup dan kehidupan dengan suami saya. Yang penting saya masih punya banyak rasa hormat pada beliaunya, that's sooo fair!!


Jika pasanganmu tidak menyempurnakanmu

Apa jadinya jika pasangan kita tidak menyempurnakanmu?? Perasaan ini kerap hinggap dihati saya, perasaan ini tidak hanya berasal dari perasaan sawang sinawang tapi juga berasal dari hati terdalam saya. Pertanyaan-pertanyaan seperti kenapa aku tidak seideal temanku, kenapa suamiku tidak seperti suami temanku, kenapa suamiku tidak sesuai dengan yang dulu dan banyak lagi muncul perasaan-perasaan yang berkecamuk.

Mungkin karena tingkat kegalauan yang bertumpuk, orang mampu merasakan seolah-olah cuma kita manusia paling tidak beruntung didunia, manusia paling sial di dunia ini, Subhanallah...istighfarlah saya dan kita semua kalau sudah merasa seperti itu. Kita di beri nafas untuk hidup saja sudah sepatutnya kita sangat syukuri, karena saat kita bisa hidup kita mampu mewujudkan impian kita dan mungkin juga bisa mengatasi masalah kegalauan kita.

Kita menikah pada dasarnya menyempurnakan iman, tapi bukan berarti kita menjadi orang yang sempurna. Sudah seharusnya menikah yang pada dasarnya hal suci yang sangat disakralkan mampu menyempurnakan keimanan sesama pasangan. Saat lelaki mengucap ijab kabul, saat itulah beban dan aib perempuan menjadi tanggungannya. Sesungguhnya berat menjadi lelaki, maka kita sebagai perempuan hendaknya membalas dengan kesetiaan dan kasih sayang. Bagi yang belum sadar cepatlah kembali ke jalan yang benar :D. Tidak hanya itu, sebagai suamipun mereka harus menafkahi istri dan anak-anaknya berupa kebutuhan dasar sandang, pangan, papan, ijin dll. Dan juga diharapkan membimbing kebaikan dalam agama dan meningkatkan kualitas keimanan lewat perkawinan. Sungguh berat tugas lelaki dan suami, namun kadang banyak yang terlupa, menurut  mereka menikah adalah hanya sekedar legalitas untuk berhubungan badan.

image by google
Saat suami tidak menuntun shalatmu bahkan mengimamimu, saat itu pasanganmu tidak menyempurnakanmu. Saat suami tidak menaikkan derajatmu dihadapan keluarganya, itu juga pasanganmu tidak menyempurnakanmu. Jangan diam, 'teriaklah' pada pasanganmu jika hanya menikahimu untuk direndahkan olehnya. Dan itulah yang akhir-akhir ini banyak dirasakan oleh sebagian pasangan yang berteriak-teriak KDRT. Semoga kehidupan rumah tangga kita selalu penuh komunikasi dan pasangan kita pun termasuk kriteria yang menyempurnakan. Amiiiinnn....

Bukan membandingkan dengan pasangan lain, tapi apa yang menjadi kebutuhanmu jika tidak dipenuhi suamimu jangan segan berkomunikasi dan mengkomunikasikannya. Karena KDRT biasanya diawali dengan misskomunikasi dan akhirnya bertumpuk seperti gunung berapi, dan BLARRRRRRRR...rumah tanggamu END.Semoga rumah tangga kita selalu diberkahi Allah dan semoga pasangan kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak menyempurnakanmu tetapi seseorang yang akan menaikkan derajatmu meski caranya tidak seperti pasangan pada umumnya. Amiinnnn....!!

 
'/>